Pemprov Sumbar Paparkan Strategi Hadapi Ancaman Megathrust kepada Pasis Sesko TNI
Written by Fakhruddin Arrazzi on June 10, 2026
SippSumbar.com — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) memaparkan berbagai strategi mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa megathrust kepada Peserta Didik Reguler (Pasis Dikreg) LV Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI Tahun Ajaran 2026 yang melaksanakan Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) di Sumbar.
Paparan tersebut disampaikan Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah yang diwakili Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Era Sukma Munaf, dalam kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gubernuran Sumbar, Padang, Selasa (9/6/2026).
Dalam materi bertajuk *Penanganan Ancaman Megathrust dalam Perspektif Kebijakan Nasional, Pertahanan Negara, dan Tata Kelola Pemerintahan Daerah*, Era menegaskan bahwa ancaman bencana tidak hanya menjadi urusan pemerintah daerah, tetapi juga berkaitan langsung dengan ketahanan dan stabilitas nasional.
“Penanggulangan bencana bukan sekadar urusan daerah, tetapi merupakan bagian penting dalam menjaga stabilitas sosial, ekonomi, bahkan keamanan nasional. Karena itu, pendekatan yang dilakukan harus komprehensif dan melibatkan seluruh komponen bangsa, termasuk TNI,” ujar Era.
Ia menjelaskan, Sumbar merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di Indonesia. Selain berada di jalur subduksi aktif Mentawai yang berpotensi memicu gempa besar dan tsunami, wilayah Sumbar juga rentan terhadap banjir, tanah longsor, serta erupsi gunung api.
Berdasarkan data tahun 2025, terdapat 208 kejadian bencana di 19 kabupaten dan kota di Sumbar yang didominasi kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta tanah longsor. Namun, ancaman gempa megathrust dinilai menjadi salah satu risiko paling serius karena berpotensi menimbulkan tsunami dan berdampak luas terhadap kawasan pesisir, termasuk Kota Padang sebagai pusat aktivitas ekonomi.
“Ancaman megathrust harus dipandang sebagai ancaman terhadap ketahanan nasional karena dampaknya dapat memengaruhi sistem logistik, perekonomian, serta stabilitas sosial masyarakat,” kata Era.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah tantangan dalam upaya pengurangan risiko bencana, mulai dari belum optimalnya integrasi mitigasi dalam perencanaan pembangunan, keterbatasan sarana dan sumber daya manusia, hingga kesiapsiagaan masyarakat yang belum merata.
Karena itu, Pemprov Sumbar terus mendorong dukungan pemerintah pusat melalui pembangunan infrastruktur mitigasi, seperti shelter tsunami dan jalur evakuasi, penguatan sistem peringatan dini yang terintegrasi secara real time, dukungan pendanaan berkelanjutan, serta sinkronisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Selain itu, Pemprov Sumbar juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui pembentukan Kelompok Siaga Bencana, pelaksanaan simulasi evakuasi tsunami secara berkala, penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi Tsunami Tahun 2025, serta penguatan kolaborasi pentahelix dalam penanganan bencana.
Era menegaskan, keberhasilan penanganan bencana sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, termasuk peran strategis TNI dan Polri dalam setiap tahapan kebencanaan, mulai dari pra-bencana, tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Sementara itu, Komandan Sesko TNI, Marsekal Madya TNI Arif Widianto, mengatakan Dikreg LV Sesko TNI Tahun Ajaran 2026 diikuti 157 peserta yang berasal dari TNI AD, TNI AL, TNI AU, Polri, serta lima peserta dari negara sahabat.
Menurut Arif, ancaman megathrust merupakan ancaman nonmiliter yang berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap keselamatan masyarakat dan stabilitas nasional. Karena itu, sinergi antara kebijakan nasional, pertahanan negara, dan tata kelola pemerintahan daerah menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan nasional.
Ia berharap kegiatan KKDN yang berlangsung pada 8–12 Juni 2026 di Sumatera Barat dan Sumatera Utara dapat menghasilkan kajian serta executive summary yang menjadi masukan bagi pemerintah daerah dan satuan komando kewilayahan dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana. (fru)